Thursday, July 18, 2013

Resume Orkidologi ke-1, 2, dan 3

Anggrek merupakan tumbuhan monokotil yang sangat populer dan digemari oleh banyak orang karena keindahan bunganya. Bunganya terdiri dari 3 helai sepal (kelopak) dan 3 helai petal (mahkota atau perhiasan bunga) yang tersusun menjadi satu. Sepal adalah helai yang mengisi lingkaran paling luar, sedangkan petal berada di lingkaran dalam.
Labellum merupakan salah satu petal yang berada di tengah dan telah termodifikasi, tempat dimana pembuahan pada tanaman anggrek terjadi. Labellum ini seringkali dijadikan sebagai karakter pembeda antara jenis anggrek satu dengan anggrek lainnya.
            Berdasarkan jenisnya anggrek dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1.      Anggek yang hidup di tanah (angggrek terestrial)
2.      Anggrek epifit yang hidup menempel pada tanaman lain
Akar anggrek merupakan akar udara. Sistem perakaran anggrek epifit ini memiliki jaringan khusus yang disebut velamen.
Anggrek merpati (Dendrobium crumenatum) salah satu jenis
anggrek epifit. Sumber gambar: dokumentasi pribadi.
Pada pertemuan kedua, kelas Orkidologi fokus pada pembahasan istilah-istilah perbungaan dan morfologi bunga anggrek: 

·         Bunga tunggal: dalam 1tangkai, hanya terdapat 1 bunga.
·         Bunga mejemuk: dalam 1 tangkai, terdapat banyak bunga.
·         Pedicellus: tangkai bunga
·         Peduncullus: ibu tangkai bunga
·         Braktea: daun atau menyerupai daun yang melindungi tangkai bunga.

 MORFOLOGI ANGGREK
·         Terdiri dari 3 helai sepal, dan 3 helai petal.
·         Sepal terdiri dari 1 sepal dorsal yang bentuknya tegak, dan 2 sepal lateral yang bentuknya menyamping.
·         Sepal pada anggrek menyerupai petalnya, ia terletak di lingkaran bawah terluar dasar bunga.
·         Sedangkan petal, terdiri dari 2 helai petal lateral yang menyamping, dan satu petal ventra. Petal ventra yang mengalami modifikasi disebut bibir (labellum)
·         Di bunga anggrek, pistil (putik) dan stamen (benang sari) ada dalam 1 bunga.
·         Tugu (column atau gynandrium) merupakan pangkal bunga, tempat sentral organ reproduksi pada tanaman anggrek.
·         Di jenis dendrobium terdapat mentum (dagu), hasil modifikasi dari petal ventra.
·         Mentum ini bentuknya cekung memanjang menyerupai dagu.
·         Di dalam tugu, ada cekungan tempat kepala putik (stigma) yang berlendir seperi lem.
·         Polinia: serbuk sari (dalam bentuk jamak, tunggal ~polinium)
·         Ovarium pada anggrek merupakan ovarium inferior karena letaknya berada di bawah reseptakulum (dasar bunga).
·         Resupinasi: merupakan peristiwa memutarnya tangkai bunga. Bunga yang mengalaminya disebut bunga resupinat. Bunga yang mengalami resupinasi ini labellumya terletak di bawah. Sedangkan bagi yang tidak, labellum-nya terletak di atas.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar berikut:
Sumber gambar http://waynesword.palomar.edu/termfl1.htm

Pada pertemuan ke-3, kelas Orkidologi membahas permasalahan agrobisnis anggrek, struktur akar, batang, dan jenis pertumbuhan anggrek.

AGROBISNIS ANGGREK           
    Permintaan anggrek yang paling banyak berasal dari jenis Phalaenopsis warna putih klasik lidah kuning dan ungu. Jenis ini rata-rata menempati 70% bagian dari permintaan pasar, sedangkan 30 %nya lagi berasal dari jenis-jenis lain.
     Pembudidayaan anggrek di Indonesia terdapat di green house daratan tinggi. Salah satu tempat yang membudidaykannya ada di Cikampek, Jawa Barat di bawah pengelolaan PT. EKAKARYA GHARA FLORA. Hal ini dikarenakan anggrek membutuhkan suhu yang rendah di malam hari agar dapat berbunga. Selain itu metode ini juga relatif murah, dibandingkan pembudidayaan dengan semi atau full otomatik. Pembudidayaan anggrek dengan semi automatik membutuhkan dana kurang lebih 7 milyar rupiah, dan 12 milyar rupiah untuk full automatik.
Sumber pemasok bibit anggrek terbesar dunia dipegang oleh negara-negara Asia, antara lain; Taiwan, Thailand, dan Jepang.
Di Indonesia pengelolaan anggrek secara profesial dan mandiri, masih menjadi tantangan sampai sekarang. Karena hal ini tidak begitu diperhatikan apalagi didukung oleh pemerintah. Selain itu, temwork yang bekerja secara profesional dan solid sulit sekali untuk dibentuk.
Dalam merawat anggrek, hal yang perlu diingat adalah kita jangan terlalu banyak memberikan air, karena akar anggrek bisa menjadi busuk. Yang penting lembab. Cara pembudidayaan dengan ex-plant (bagian tubuh anggrek) biasanya membutuhkan waktu 2-3 tahun sampai berbunga.
Hama-hama yang menyerang tanaman ini berasal dari berbagai jenis serangga, bakteri, fungi, dll. Hama serangga yang biasa dijumpai adalah kutu gajah, ia melukai batang anggrek kemudian menyelipkan telurnya. Setelah telurnya menetas, si anak-anak kutu ini akan memakan isi dari batang anggrek tersebut.


Jenis anggrek yang paling diminati di pasaran dunia.
Sumber gambar: dokumentasi pribadi.
AKAR ANGGREK
Akar anggrek terdiri dari 2 tipe yang sebenarnya tidak ada garis demakrasi yang tegas antara keduanya, yaitu: tipe serabut dan adventif.
Akar anggrek ini biasanya bentuknya silindris, dan akan memipih (dorsiversal) jika menempel pada sesuatu. Karena memiliki klorofil, akar pada tanaman ini juga turut membantu proses fotosintesis.
Akar dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
1.      Daerah apikal: merupakan akar muda
2.      Daerah pemanjangan: bagian pendewasaan akar
3.      Daerah Fungsional: bagian akar yang menjalani fungsinya sebagai akar sejati, seperti menyimpan air atau nutrisi.

Bagian khusus pada daerah fungsional akar ini yang berfungsi untuk menyimpan air dan nutrisi yang terlarut di sebut velamen. Banyaknya warna keputih-putihan pada akar anggrek, menunjukan bahwa velamen tersebut kaya akan nutrisi.

Tipe axis pertumbuhan anggrek:
1.      Simpodial: pertumbuhan cenderung ke tunas aksilar. Di sini batang akan tumbuh sampai titik tertentu lalu mati, digantikan oleh cabang muda.
2.      Monopodial: pertumbuhan cenderung ke tunas apikal. Tanaman monopodial akan tumbuh tanpa batas terus ke atas. Contohnya anggrek kalajengking.

Stuktur batang:
1.      Rhizome
2.      Pseudobulb: Modifikasi batang jadi menggembung, akibat menyimpan makanan.
·         Pseudobulb homoblastik: terdiri dari satu ruas.
·         Pseudobulb heteroblastik: terdiri dari banyak ruas.

Wednesday, July 17, 2013

Metode Dekonstruksi Jacques Derrida

Pendahuluan
Sumber gambar http://www.jacquesderrida.com.ar/
Jacques Derrida lahir di El Biar, Aljazair (1930-2005). Ia merupakan salah satu founding fathers postrukturalis asal Perancis keturunan Yahudi yang sangat berpengaruh di abad ke-20 dan ke-21. Beliau dibesarkan dalam lingkungan yang agak diskriminatif terhadap Yahudi. Pemikirannya tentang bahasa ini mendapatkan banyak pengaruh dari Nietzsche, Heidegger, Levinas, dan pelopor stukturalis asal Swiss, Ferdinand de Saussure (1857-1913). Derrida sependapat dengan pemikiran Saussure yang mengatakan bahwa bahasa bukanlah representasi dari dunia, melainkan suatu hal yang membentuk dunia. Bahasa menciptakan realitasnya sendiri. Kata sebagai penanda (signifier) tidak memiliki hubungan ilmiah dengan kenyataan yang sesungguhnya (referent).
Makna bagi strukturalisme dapat dibentuk hanya dari sistem perbedaan tanda baik secara fonemik dan relasional, tidak dari ekuivalensi di luar bahasa sebagaimana adanya (das-Ding-an-sich). Misalkan kata ‘makam’ mendapatkan maknanya dari perbedaan fonemik dengan makan, malam, masam. Kata ‘siang’ mendapatkan maknanya dari relasinya dengan yang lain what is not ‘siang’. Derrida melihat permasalahan dalam hal ini.
Ia mengemukakkan bahwa tanda-tanda yang digunakan dalam sistem perbedaan untuk merumuskan makna, tidak pernah hadir sepenuhnya melainkan selalu tertunda. Sedangkan suatu tanda tidak sempurna tanpa tanda lain. Sehingga makna yang dihasilkan oleh sistem perbedaan tanda-tanda ini akan selalu cacat. Selain itu proses pembentukan makna (signification) ini sifatnya murni arbitrer (sewenang-wenang) dan selalu bersifat politis. Oleh karena itu, Ia menolak adanya petanda absolut atau makna absolut, makna transendental, dan makna universal, yang diklaim oleh para pemikir sebelumnya. Upaya pencarian makna sebagai sesuatu yang pasti pun, dinilainya sebagai usaha yang sia-sia.
Apabila suatu makna telah mapan (stabil), Derrida meyakini bahwa pasti ada konstruksi politik berdimensi kekuasaan yang bermain dibelakangnya. Begitupun pada makna-makna yang bersifat hierarkis. Untuk mengatasi permasalahan bahasa ini, kemudian Derrida mengajukan suatu metode yang bernama metode dekonstruksi.

POKOK-POKOK PEMIKIRAN DERRIDA
Sebagaimana Nietzsche, Derrida menolak kebenaran tunggal dari suatu makna. Ataupun pandangan kaum stukturalis yang mengatakan bahwa akan ada makna yang stabil setelah oposisi biner bekerja. Menurut Derrida makna sifatnya tidak pernah stabil dan otonom, melainkan plural dan senantiasa berubah sesuai konvensi, serta akan selalu dependen pada jejaring tanda di sekitarnya.
Dalam bukunya yang berjudul Of Grammatology (1967) Derrida mengatakan bahwa segala sesuatunya yang kita kenali adalah teks, Il n'y a pas de hors-texte (tidak ada apa-apa di luar teks). Teks meliputi segala-galanya, termasuk juga subjek. Subjek bagi Derrida tidak lain merupakan teks hasil bentukan dunia—bukan sesuatu yang otonom dan sadar diri. Derrida menyatakan bahwa signifikasi selalu merujuk ke tanda-tanda lain dan kita tidak akan pernah sampai ke suatu tanda yang hanya merujuk ke dirinya sendiri.
 Proses signifikasi di sini berarti selalu berinteinsionalitas kepada tanda-tanda (signs) di luar diri, dan tidak pernah mengacu kepada kekosongan ataupun tanda tunggal (sign). Sebagai tindak kesadaran (noesis), signifikasi tidak pernah terlepas dari objek kesadarannya (noema) berupa tanda-tanda. Proses signifikasi tidak seperti cogito ergo sum-nya Descartes, yang tertutup dari dunia dan cogito lainnya. Pertanyaannya, bagaimana mungkin kita memikirkan sesuatu tanpa ada-ada yang lain?
Maka teks menurut Derrida bukanlah sebuah tanda tunggal, melainkan jejaring tanda (network relation of signs). Dan proses perujukan kepada tanda-tanda yang tidak terhingga ini (infinite) tidak akan pernah sampai ke makna itu sendiri, karena tanda-tanda yang digunakan dalam différance itu sendiri tidak pernah hadir sepenuhnya. Sementara makna sejati mensyaratkan keseluruhan negasi dari tanda-tanda secara utuh. Bagi Derrida yang dapat kita kenali hanyalah rantaian tanda-tanda yang sifatnya kabur dan parsial, yang disebut jejak-jejak (trace).
·         Difference
DiffĂ©rance merupakan sebuah kata Perancis baru yang diturunkan dari kata kerja-sifat diffĂ©rer yang berarti ‘berbeda’ sekaligus ‘menunda’. Kata ini diciptakan Derrida untuk menunjukan suatu proses penurunan makna berdasarkan system perbedaan (diffĂ©rence) dari tanda-tanda yang selalu tertunda (deffĂ©red).
The two together—“difference” and “deferment”—both senses present in the French verb “diffĂ©rer,” and both “properties” of the sign under erasure—Derrida calls “diffĂ©rance.” This differance—being the structure (a structure never quite there, never by us perceived, itself deferred and different) of our psyche—is also the structure of “presence,” a term itself under erasure. For differance, producing the differential structure of our hold on “presence,” never produces presence as such.(Of Gramatology, 1974:37)
 
Différance juga digunakan Derrida untuk menujukan keunggulan tulisan atas ucapan, yang dimaksudkannya untuk merobohkan bangunan Phonosentrisme yang menjadi tradisi filsafat Barat.

KRITIK DERRIDA TERHADAP STUKTURALISME
Pemikiran Derrida sebagai seorang postrukturalis memang banyak yang sejalan dengan pemikiran stukturalisme, keduanya sama-sama menolak adanya subjek yang otonom, representasi istimewa antara kata dengan benda, sejarah linier dll. Meskipun demikian ada beberapa pokok pikiran yang sangat bertentangan antar keduanya. Logosentrisme dan phonosentrisme yang dianut strukturalisme, merupakan dua poin utama yang dikritik habis-habisan oleh Jacques Derrida.
·         Logosentrisme merupakan tradisi metafisika Barat yang berjiwakan Platonian dan dualisme Cartesian. Logosentrisme ini disebut juga sebagai metafisika kehadiran (Metaphysics of Presence) yang mengasosiasikan kebenaran dengan kehadiran diri murni (pure self presence). Pondasi logosentrisme ini pertama kali diletakan oleh Plato yang membagi realitas menjadi dua bagian yang saling beroposisi dan bermakna hierarkis;
(1)   yang metafisik (absolute, origin)
(2)   yang fisik (tiruan,semu)
Logika yang membangun logosentrisme ini disebut dengan logika oposisi biner. Logika oposisi biner bekerja dengan menempatkan satu term sebagai pondasi sejati yang absolut dan origin, sedangkan term oposisinya ditempatkan sebagai semu-subordinatnya. Misalnya idea atas materi, mind atas body, ucapan atas tulisan, langue atas parole, pria atas wanita, dan filsafat Barat atas filsafat Timur.
·        Phonosentrisme  merupakan derivasi dari logosentrisme yang meletakan tulisan sebagai subordinat ucapan. Phonosentrisme berasumsi bahwa ada makna sejati (fixed signified) di balik penampakan fisik yang ditunjukan oleh penanda (signifier), dan hal tersebut hanya dimungkinkan jika keduanya yakni petanda (signified) dan penanda (signifier) dihadirkan secara bersama-sama lewat ucapan. Ucapan (spoken word) dianggap sebagai sumber kebenaran yang otentik dan hidup, sedangkan tulisan (witten word) dianggap sekedar emanasi sekunder yang mati dan distortif—menghancurkan ideal kehadiran diri murni (pure self presence) yang mana merupakan jaminan kepastian kebenaran.
·         Kritik Terdadap Logosentrisme dan Phonosentrisme
Derrida mengatakan bahwa tidak ada perbedaan yang esensial yang membedakan tulisan dengan ucapan. Keduanya baginya hanyalah  ketidakhadiran dan kehadiran parsial yang tidak pernah mencerminkan kehadiran diri murni (pure self presence) maupun makna sejati (fixed signified). Hal tersebut dikarenakan deotonomi subjek terhadap bahasa bentukan dunia yang mana rumusan-rumusan makna di dalamnya telah dibentuk oleh para pendahulunya.
“Logos must indeed shaped according to the model eidos, the book the reproduces the logos, and the whole is organized by this relation of repetition, resemblance, doubling, duplication, this sort specular process and play reflection where things speech and writing come to repeat and mirror to each other.”(1)
(1)     Derrida, Jacques. Dissemination (Chicago: terj. A. Alan Bass, 1981) hlm. 188
 
Untuk lebih jelasnya, berikut ilustrasi yang diberikan oleh Donny Gahral Adian:
 

Apabila kita membaca teks Plato, misalnya, maka kita berusaha mendapatkan apa maksud pengarang secara akurat. Hal tersebut berarti kita anggap teks sebagai signifier, sedang gagasan di benak Plato adalah signified. Namun apabila kita cermati lebih dalam, maka Plato mendapatkan gagasannya dari gurunya Socrates; Socrates mendapatkan gagasannya dari para filsuf Yunani sebelumnya dst, dst. Hal ini membuktikan, klaim bahwa gagasan di benak adalah fixed signified tidak dapat dipertahankan lagi. Karena signified tersebut ternyata adalah signifier yang merujuk pada suatu yang lain. Benak kita tatkala membaca teks Plato juga tidak kosong melompong, melainkan dipenuhi oleh tumpukan penafsiran-penafsiran orang sebelumnya tentang teks Plato yang menjadi presuposisi dalam kita membaca teks tersebut.” ( Percik Pemikiran Kontemporer, 2006: 82)

Derrida juga menunjukan bahwa ucapan juga memiliki kualitas ketidakpastian. Untuk menunjukan kata difference misalnya.
DiffĂ©rance adalah kata Perancis yang jika diucapkan pelafalannya persis sama dengan kata diffĂ©rence. Kita tak bisa membedakan diffĂ©rance dan diffĂ©rence hanya dengan mendengar ucapannya karena pelafalannya sama, tetapi harus melihat tulisannya. Inilah contoh yang menunjukan ketidakpastian ucapan, sekaligus membuktikan bahwa tulisan lebih unggul ketimbang ucapan.
Berdasarkan sistem penurunan makna dari jejak-jejak yang bersifat relasionisme (they are what the others are not), harusnya tidak ada makna-makna yang bersifat hierarkis, ataupun pantas mengklaim bahwa dirinya absolut atau universal.
Menurut Derrida,  privilis satu entitas atas entitas yang lain merupakan produk manipulasi kultural yang ditopang oleh suatu kepentingan politis berdimensi kekuasaan— yang sudah sepatutnya didekonstuksi.

METODE DEKONSTUKSI
Dekonstruksi adalah cara atau metode membaca keseluruhan teks secara kritis yang tujuan utamanya untuk membongkar oposisi-oposisi biner dan konstruksi-konstruksi politis yang laten dalam teks.
‘Dekonstuksi’ yang dimaksud Derrida tidaklah sama dengan yang dimaksud oleh Martin Heiddeger dengan destruksi (destruction) yang artinya penghancurleburan (demolition). Dekontruksi yang dimaksud oleh Derrida merujuk pada upaya untuk mentransformasi makna dengan cara destruksi dan rekonstruksi (dihancurkan kemudian ditata kembali). Layaknya kita menghancurkan sebuah bangunan, lalu membuat bangunan baru dengan puing-puing yang lama.

DAFTAR PUSTAKA
Derrida, Jacques. 1978. Writing and Difference  Terj. Anotasi Alan Bass. Chicago: The University of Chicago.
---------------------. 1974. Of Gramatology, Terj. Gayatri Chakravorty Spivak. Baltimore: The John Hopkins University Press.
---------------------.1981. Dissemination, Terj. Anotasi Alan Bass. Chicago: The University of Chicago Press.
Adian, Donny Gahral. 2006. Percik Pemikiran Kontemporer: Sebuah Pengantar Komprehensif.  Yogyakarta: Jalasutra.
Barliana, Syaom. “SEMIOTIKA: DALAM MEMBACA TANDA-TANDA” dalam  http://www.academia.edu/1045086/S_E_M_I_O_T_I_K_A_TENTANG_MEMBACA_TANDA-TANDA, diunduh pada 17 Mei 2013 pukul 14.00 WIB.
Internet Encyclopedia of Philosophy. “Jacques Derrida (1930 - 2004)” dalam http://www.iep.utm.edu/derrida/, diunduh pada 18 Mei 2013 pukul 11.30 WIB.

Sunday, March 31, 2013

Paradigma Holisme-Ekologis: Solusi untuk Mengatasi Krisis Global

Pendahuluan
Sumber gambar: inspireyoursoul.tv

            Berbagai masalah yang timbul seperti dehumanisasi, ekspoitasi, ataupun kriminalitas menurut Fritjof Capra (1939-sekarang) disebabkan oleh kesalahan pada pola pikir manusia modern yang bersumber pada paradigma yang mereka gunakan. Paradigma yang dimaksud oleh Capra adalah paradigma mekanistik-linier Descartes dan Newton (paradigma Newtonian-Cartesian). Paradigma yang telah mendominasi masyarakat sains selama tiga abad belakangan ini, dinilai sudah tidak layak lagi digunakan, dan harus diganti dengan paradigma yang baru.
            Paradigma Newtonian-Cartesian mengobjekan dan mereduksi kosmos sebagai sebuah mesin besar yang berjalan secara mekanistik-deterministik, yang mana tersusun dari bagian-bagian yang saling terpisah dan bersifat materialistik. Segala sesuatu yang berada di luar mind (res cogitans) yaitu alam fisik (res extensa) dianggap sebagai the others yang digerakkan oleh suatu hukum tertentu yang mekanistik. Mind di sini dianggap sebagai jaminan satu-satunya bagi eksistensi subjek, yang mana terpisah dari alam material.
            Karena alam dipandang sebagai sebuah mesin yang berjalan mekanistik-deterministik, maka satu-satunya cara untuk memahami mesin tersebut tidak lain adalah dengan membongkar dan menelitinya. Di sini kemudian Newton, menetapkan mekanika sebagai ilmu fundamental tentang gerak benda-benda. Yang mana kemudian mekanikanya ini (yang mensyaratkan objektivitas dan rasionalitas) dijadikan sebagai model oleh ilmu-ilmu lain.
            Dari sini munculah kebiasaan orang untuk mengobjekan dan mereduksi kompleksitas alam. Alam dipecah-pecah menjadi bagian-bagian tertentu, interkoneksi diputus, dan relasi sebagai satu kesatuan utuh yang sistemik dilupakan. Ilmu itu sendiri difragmentasi menjadi dua golongan, yaitu ilmu alam yang berkaitan dengan res extensa dan ilmu kemanusiaan yang berkaitan dengan res cogitans. Dalam bukunya yang berjudul The Web of Life, Capra mengatakan bahwa “systemic properties are destroyed when a system is dissected, either physically or theoretically, into isolated elements.(1)


(1)     The Web of Life (London: Fritjof Capra, 1997) hlm. 292

            Paradigma Newtonian-Cartesian ini memang telah memberikan sumbangan yang luar biasa bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Namun di sisi lain, objektivikasi terhadap alam ini lama-kelamaan berubah menjadi suatu bentuk dominasi manusia terhadap alam, selain itu juga telah membuat kesadaran subjek tentang alam menjadi terpecah-belah. Pada akhirnya subjek menderita krisis multidimensional, dan alam pun menderita krisis global.
            Untuk mengatasi krisis global tersebut, Capra mengusulkan suatu paradigma sekaligus juga etika lingkungan hidup baru, yaitu paradigma holisme-ekologis. Holisme berasal dari kata Inggris whole yang berarti keseluruhan. Holisme adalah cara pandang yang menyeluruh terhadap realitas sebagai sesuatu yang sistemik, kompleks, dan dinamis. Sedangkan ekologis adalah cara pandang yang melihat kosmos sebagai satu kesatuan sistem yang komponen-komponennya saling berelasi dan interkoneksi satu sama lain. Singkatnya, paradigma ini melihat alam semesta sebagai sistem organis secara menyeluruh.
            Tujuan Capra membentuk paradigma holisme-ekologisi ini adalah untuk membentuk manusia-manusia yang memiliki etika lingkungan hidup (ecoliterate). Ia yakin hal tersebut dapat diwujudkan melalui program ekoliterasi.
            Dalam karya tulisnya, Capra cenderung menggunakan bahasa logis dan umum yang dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan, untuk mendemonstrasikan dan mendukung gagasan-gagasan etikanya. Hal tersebut dimaksudkan agar konsepsi filsafatnya ini tidak hanya dapat dipertanggungjawabkan secara teoritis, namun juga dapat diimplementasikan pada tingkat praktis.

Gagasan Tentang Manusia dan Lingkungannya
            Cogito ergo sum, merupakan diktum yang sangat terkenal dari Rene Descartes. Di sini ia menempatkan mind sebagai penjamin eksistensi manusia, sekaligus juga indikator yang membedakan manusia dengan hewan. Hewan dipandang olehnya sebagai suatu materi (automata kompleks) yang tidak memiliki mind, dan diatur oleh hukum alam fisik yang deterministik. Mind yang dimaksud olehnya ini adalah suatu substansi yang samasekali terpisah dari alam fisik.
            Melalui Teori Kognisi Santiago karya Humberto Matunara dan Varella, Capra membantah dulisme tersebut.  Menurut Teori kontemporer ini, tubuh dan jiwa merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Keterkaitan antara keduanya dibuktikan oleh konsep mind. Mind di sini pertama-tama tidak dapat disamakan dengan rasio (reason) atau jiwa (soul). Mind adalah kegiatan mental atau kognisi yang mengada dalam tubuh (embodied). Di sini diandaikan bahwa kegiatan berpikir (mind) selalu membutuhkan media berupa tubuh yang bersifat material, dan terikat oleh hukum alam.
            Hal yang dapat ditangkap dari Teori Kognisi Santiago adalah, ketidakterpisahan antara alam pikiran (res cogitans) dengan alam materi (res extensa) yang ditandai oleh suatu proses berpikir yang menubuh (embodied)—yaitu mind. Hal tersebut mengindikasikan bahwa tidak ada pengamat yang independen, karena manusia selalu terikat oleh lingkungannya. Manusia dan lingkungannya merupakan entitas yang saling mempengaruhi dan tak terpisahkan satu sama lain.
            Bumi, lingkungan hidup kita merupakan sebuah sistem atau jejaring kehidupan, yang tersusun atas komponen-komponen yang saling terhubung dan saling mengisi satu sama lain untuk sebuah harmoni. Dalam sebuah sistem, apabila ada salah satu komponen yang terganggu, maka keseimbangan sistem secara keseluruhan pun akan terganggu. Menurut Capra, posisi manusia dalam jejaring (nexus) kehidupan ini memegang peran yang dominan. Ia mengatakan bahwa yang menjamin keberlangsungan peradaban, adalah kerjasama dan tanggung jawab kita (manusia) terhadap alam, bukan objektivikasi ataupun dominasi terhadapnya. The survival of our whole civilization may depend on wheter we can bring about such a change.” (2)  

Diktum Holisme-Ekologis
            Paradigma Newtonian-Cartesian dikenal dengan diktum Cogito ergo Sum (aku berpikir maka aku ada), sementara paradigma holisme-ekologis dikenal dengan Respondeo ergo Sum-nya (aku bertanggungjawab maka aku ada). Gagasan Respondeo ergo Sum mengatakan bahwa manusia berkewajiban untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai manusia, demi keberlangsungan eksistensi manusia itu sendiri.
            Pertanyaannya adalah, apa yang harus dipertanggungjawabkan oleh kita sebagai manusia? Jean Paul Sarte dalam bukunya Being and Nothingness mengatakan Man being condemned to be free carries the weight of the whole world on his shoulders; he is responsible for the world and for himself as a way of being.” (3)  Apa yang menurut Sartre harus dipertanggungjawabkan oleh kita, manusia, adalah faktisitas kita sebagai being-in-the-world (Dasein). Faktisitas adalah keterberian yang berada di luar pilihan kita, suatu kefaktaan yang tidak dapat disangkal ataupun dielakan, namun hanya dapat dipertanggungjawabkan. Misalnya seperti kelahiran, kebebasan, ataupun eksistensi kita sebagai Dasein. Pemikiran Sartre ini senada dengan Capra. Dalam bukunya Capra menulis:

            “We are all members of humanity, and we all belong to the global biosphere. We are all members of oikos, the “Earth Household”, which is the Greek root of the “ecology”, and as such we should behave as the other members of the household behave- the plants, animals, and micro-organisms that form the vast network of relationships that we call the   web of life. This global living network has unfolded, envolved, and diversified for the last three billion years without even being broken. The outstanding characteristics of the Earth Household is its inherent ability to sustain life. As members of the global    community of living beings, it beholves us to behave in such way that we do not interfere with this inherent ability; this is the essential meaning of ecological sustainability. What is sustained in a sustainable community is not economic growth or development, but the entire web of life on which our long-term survival depends. It is designed so that its ways of life, business, economy, physical structures and technologies do not interfere with nature’s inherent ability to sustain life (Capra, The Hidden Connections, p 250).

(2)     The Turning Point (London: Fritjof Capra, 1983) hlm. xx
(3)    L’Etre et le NĂ©ant (Jean Paul Sartre, 1943) terj. Being and Nothingness (London: H.E. Barnes, 1957) hlm 231


Program Ekoliterasi: Manifestasi Paradigma Holisme-Ekologis di Tingkat Praktis

            Capra merangkum hasil pemikirannya ini ke dalam beberapa prinsip yang disebut sebagai prinsip-prinsip ekologis, yang mana akan disebarluaskan melalui program ekoliterasi. Ekoliterasi adalah suatu kondisi di mana seseorang dapat memahami dan menggunakan prinsip-prinsip ekologis untuk membangun komunitas-komunitas yang berkelanjutan.
            We need to become, as it were, ecologically literate. Being ecologically literate, or ‘ecoliterate’, means understanding the principles of organization of ecological communities (i.e. ecosystems) and using those principles for creating sustainable human communities. We need to revitalize our communities-including our educational communities, business communities, and political communities-so that the principles of ecology become manifest in them as principles of education, management, and politics.” (4)

Prinsip-prinsip ekologis disebarluaskan dalam program ekoliterasi, antara lain sebagai berikut:

Jaringan-jaringan
Pada semua skala alam, kita temukan sistem-sitem hidup yang berada dalam sistem hidup lain jaringan dalam jaringan. Batas-batas mereka bukanlah batas pemisah, melainkan batas identitas. Segala sistem hidup saling berkomunikasi dan berbagi sumber daya melintasi batas-batas mereka.

Siklus
Semua organisme hidup harus menyerap aliran materi dan energi terus-menerus dari lingkungan mereka untuk bertahan hidup, dan semua organisme hidup terus-menerus menghasilkan sampah. Akan tetapi, suatu ekosistem tidak menghasilkan sampah, karena sampah satu spesies menjadi makanan bagi spesies lain. Dengan demikian, materi terus menerus berputar dalam suatu jaring-jaring kehidupan.

Energi Matahari
Energi matahari, yang diubah menjadi energi kimia melalui fotosistesis tumbuhan hijau menggerakan siklus-siklus ekologis.

Kemitraan
Pertukaran energi dan sumber daya dalam suatu ekosistem didukung oleh kerjasama yang dapat menembus batas-batas. Kehidupan tidak mengambil alih planet ini melalui pertempuran, tetapi melalui kerjasama, kemitraan, dan membuat jaringan.

Keragaman
Ekosistem-ekosistem mencapai stabilitas dan ketahanan melalui kekayaan dan kompleksitas jaringan-jaringan ekologis mereka. Makin besar keragaman hayati mereka, makin tangguhlah mereka.

Keseimbangan Dinamis
Suatu ekosistem adalah jaringan fleksibel yang terus-menerus berfluktuasi. Fleksibilitasnya adalah konsekuensi banyak lingkaran umpan balik yang menjaga sistem dalam keadaan keseimbangan dinamis. Tak satupun variabel yang dimaksimalkan, segala variabel yang dimaksimalkan, segala variabel berfluktuasi sekitar nilai optimal mereka. (5)

(4)    The Web of Life (London: Fritjof Capra, 1997) hlm. 289
(5)    The Hidden Connections (London: Fritjof Capra, 2002) hlm. 251

DAFTAR PUSTAKA



Capra, Fritjof. 1997. The Web of Life: A New Synthesis of Mind and Matter. London: Flamingo.
-----------------. 1983. The Turning Point: Science, Society, and The Rising Culture.A New Synthesis of Mind and Matter. London: Flamingo.
-----------------. 2002. The Hidden Connections: A Science for Sustainable Living. London: Harper Collins Publisher.
----------------. 1975. The Tao of Physics: An Exploration of The Parrarels Between Modern Physics and Eastern Mysticism. Fontana: Wildwood House.
Setiawan, Otto Trengginas. 2006. Skripsi:  Filsafat Holisme Ekologis: Tanggapan Terhadap Paradigma Cartesian-Newtonian Menurut Pemikiran Fritjof Capra. Depok: UI Press.
Sartre, Jean Paul. 1957. Being and Nothingness, (Trans. H. E. Barnes). London: Methuen.